BREAKING

Jumat, 29 Januari 2016

Mengapa Kamu Begitu Takut?

 

Credit Teks: Renungan Pagi

Sabtu, 30 Januari 2016 Hari Biasa Pekan III

Bacaan I: 2Samuel 12:1-7a.10-17

Injil: Markus 4:35-41

 

"Angin dan danau pun taat kepada Yesus."
 
Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana lalu bertolak, dan membawa Yesus dalam perahu itu di mana Ia telah duduk; dan perahu-perahu lain pun menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapakah gerangan orang ini? Angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
 
"Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40)

“Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang.” (Mrk 4:35). Menyeberangi danau yang cukup luas diwaktu malam kiranya terasa sepi dan menakutkan, apalagi ketika taufan dahsyat yang mengombang-ambingkan perahu yang sedang ditumpanginya. Itulah yang sedang terjadi dan dialami oleh para rasul bersama dengan Yesus yang sedang tertidur. Dalam ketakutan dan kerja keras mengayuh perahu para rasul berkata: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa? Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Mrk 4:38-40). Para rasul tidak percaya bahwa Yesus berada di tengah-tengah mereka dan bersama dengan-Nya pasti tidak akan binasa karena taufan dahsyat.

Tuhan hadir dimana-mana dan kapan saja terus menerus di dalam kehidupan dan kebersamaan kita, maka baiklah ketika kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan pekerjaan berat marilah kita sadari dan hayati kehadiran dan karya-Nya, Tuhan yang senantiasa mendampingi atau menyertai hidup, kerja, kesibukan dan pelayanan kita. Dengan kata lain marilah dalam dan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita lihat, temui dan hayati kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup sehari-hari, antara lain dalam diri sesama dan saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Lihat, cari dan hayati apa yang baik, indah, mulia dan benar di dalam sesama dan lingkungan hidup kita dengan rendah hati dan dalam keheningan.

"Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan" (2Sam 12:11-12), demikian firman Tuhan bagi Daud yang telah berbuat dosa. 



Orang berbuat dosa atau melakukan kejahatan, misalnya mencuri, korupsi, berzinah dst..pada umumnya memang secara sembunyi-sembunyi atau diam-diam agar tidak diketahui orang lain. Namun betapa rapinya orang menyembunyikan kejahatannya pada suatu saat akan terbongkar juga, dan pembongkaran tidak sembunyi-sembunyi atau diam-diam, melainkan secara terbuka dan terang-terangan, entah secara informal maupun formal. 
Secara informal artinya kejahatan orang yang berangkutan menjadi percaturan atau omongan banyak orang di berbagai tempat, sedangkan secara formal berarti dibuka dan dibicarakan dalam proses pengadilan. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang telah berbuat jahat atau berdosa: hendaknya sedini mungkin mengakui dosa dan kejahatannya daripada kelak kemudian hari dibuka orang lain dan dengan demikian tersebar luas serta mencelakakan. Ketika ada orang yang mengingatkan kejahatan atau dosa kita, sebagaimana Natan mengingatkan Daud, hendaknya dengan jujur dan terbuka mengakui seperti Daud yang berkata "Aku sudah berdosa kepada TUHAN."
Tuhan akan mengampuni dosa dan kesalahan kita, dan memang sebagai tebusan atau denda dosa ada kemungkinan kita harus berkorban atau melakukan dan melihat sesuatu yang kurang enak dan kurang membahagiakan, sebagaimana akan dilihat oleh Daud dalam keturunannya. Ada kemungkinan karena dosa dan kejahatan kita, anak-anak atau generasi penerus kita menderita cacat tertentu, meskipun kita sudah bertobat. (arsip renungan Rm. Ign. Sumarya, SJ)

 

 

Kamis, 28 Januari 2016

Minggu Biasa IV (H) -Tahun C

 

 Credit: MirificaNews

31 Januari 2016

Minggu Biasa IV (H) -Tahun C  

Bacaan: Yer 1:4-5; 17-19; 1 Kor 12:31-13,13; Luk 4:21-30

ANDAIKATA SAJA….

Seandainya orang-orang Nazaret itu menyadari apa yang sedang terjadi, mereka akan merasa sebagai orang-orang yang paling berbahagia di muka bumi ini. Namun mereka tak puas, jadi berang dan bermaksud memaksa Yesus membuat mukjizat. Ironis. Yang mereka peroleh sebetulnya jauh lebih besar dan lebih khusus dari segala perbuatan yang mengherankan yang terjadi di tempat lain. Tapi mereka tak menangkap. Kepada mereka ditegaskan bahwa nubuat Yesaya (Luk 4:18-19=Yes 61:1-2) menjadi kenyataan. Di tengah-tengah mereka – “hari ini” – hadir Mesias yang dikabarkan kedatangannya oleh nabi-nabi dan dinanti-nantikan orang selama berabad-abad. Ia datang membawakan keleluasaan batin dan kemerdekaan berpikir. Namun mereka menginginkan hal-hal yang lebih spektakuler. Mereka menolak  kehadiran Yang Ilahi demi keinginan melihat mukjizat.

Kita tidak tahu persis bagaimana Yesus bisa meloloskan diri dari keberingasan massa itu.  Tapi hal ini bukan hal pokok yang hendak disampaikan Lukas. Memang ada  yang mengatakan bahwa perbawa Yesus sedemikian besar sehingga massa dapat diredamnya dan ia pergi dengan tak kurang suatu apa pun. Tetapi kalau betul begitu mengapa tadi mereka berani menyeretnya ke pinggir tebing? Orang-orang di Nazaret itu bukan Iblis yang bisa dibentak pergi dengan mengutip Ul 6:16 seperti terjadi dalam Luk 4:12. Amat boleh jadi orang-orang itu akhirnya tidak jadi menghempaskan Yesus ke jurang karena melihat Yesus tak mau bermukjizat seperti mereka kehendaki. Boleh jadi ada salah satu dari mereka yang mencegah. Imajinasi kita bisa bermacam-macam dan memang Lukas membiarkan orang membaca Injilnya secara kreatif. Lukas hanya memberitahukan bahwa Yesus “lewat dari tengah-tengah mereka dan pergi”.  Yang penting dalam seluruh episode ini bukan bagaimana Yesus meloloskan diri, melainkan apa yang terjadi dengan orang-orang Nazaret itu. Tingkah mereka membuat kehadiran Yesus lepas dari tengah-tengah mereka. Mereka kehilangan dia.

Dengan kisah ini Lukas mengajak orang mewaspadai sikap beragama dan perilakunya. Demam mukjizat bisa berakhir dengan hilangnya sumber mukjizat sendiri seperti yang terjadi di Nazaret. Dan memang setelah peristiwa ini, dusun Nazaret yang berperan besar dalam bab-bab sebelumnya tidak terucap lagi dan dilupakan orang. Perannya telah selesai. Nama dusun ini selanjutnya hanya diingat dalam sebutan “Yesus dari Nazaret”, yang kehadirannya justru tidak diterima dengan baik oleh orang-orang Nazaret sendiri.

PENYAKIT KRONIK HIDUP BERAGAMA DAN OBAT SANTO PAULUS
Agama mengajarkan agar orang  mengimani Yang Ilahi, pasrah kepada kekuatan-kekuatanNya. Namun sikap pasrah yang asal saja sering malah menggiring orang ke tujuan lain. Beberapa kenyataan dalam penghayatan agama menunjukkan hal ini. Iman yang unsur pokoknya adalah keteguhan dapat menjadi sikap fanatik dan intoleran. Tata upacara atau ritus yang tujuannya membantu orang merasakan batas-batas antara yang duniawi dengan Yang Ilahi bisa menjadi serangkai tindakan magi yang justru mengaburkan batas-batas tadi. Akibatnya barang-barang yang berhubungan dengan tata upacara beralih peran menjadi jimat dan guna-guna. Doa beralih fungsi menjadi jampi-jampi mendatangkan roh. Hukum agama yang menata hidup beragama bisa menjadi aturan-aturan yang mencekik kerohanian dengan rasa takut yang bisa dimanipulasi demi tujuan-tujuan tertentu. Spiritualitas yang muncul dari pengalaman akan kehadiran yang ilahi bisa menjadi praktek ulah batin yang kurang sehat bila tak terolah terus.

Penyakit kronik dalam hidup beragama ini juga dikenali oleh Paulus. Dalam 1 Kor 12:31-13,13 ia mengatakan bahwa macam-macam karunia khusus bila tak disertai “kasih” (agape)  tak ada maknanya. Kemampuan berbicara bahasa malaikat dan manusia, bernubuat, menguasai ilmu gaib, iman sempurna, sikap mau berkorban bisa jadi satu saat tak lagi dibutuhkan, akan tetapi, menurut Paulus, kasih tidak ada habisnya. Ia menggambarkan pelbagai kenyataan yang menunjukkan adanya kasih: sikap sabar, baik hati, tak cemburu, tak besar kepala dan sombong, jauh dari sikap tak sopan dan egoist, bukan pemarah, bukan pendendam, memihak kebenaran dan menjauhi ketakadilan, telaten, bisa mempercayai, penuh harap, tahan uji. Daftar ini tentu dapat diperpanjang. Namun semuanya sama-sama mencerminkan sikap apa adanya, tidak mengada-ada. Dalam bahasa orang sekarang: integritas, bersikap apa adanya. Itulah penerapan kasih bagi zaman ini. Agama dapat membawakan keleluasaan batin bila dihayati secara apa adanya. Bila tidak, akan gampang kena penyakit kronik demam mukjizat yang mengaburkan kehadiran Yang Ilahi di tengah-tengah manusia. Paulus mengajak orang-orang di Korintus dan kita semua agar waspada dan jangan sampai mabuk roh.

Senantiasa Andalkan Tuhan, Ia Bekerja Secara Misterius




BERAWAL dari komunitas yang kecil, yaitu 12 rasul, kini Gereja berkembang pesat di seluruh pelosok dunia. Semuanya ini terjadi karena rahmat Allah bekerja dibalik seluruh kerja keras dan pengurbanan para rasul.

Sabda hari ini mengajak kita semua untuk bertumbuh dalam iman. Benih iman sudah ditebarkan Allah, maka sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk menyediakan lahan hati yang subur agar benih dapat bertumbuh dan berbuah melimpah.

Pupuklah dengan doa, dengarkan dan laksanakan sabdaNya agar iman mampu berdiri kokoh dalam menghadapi berbagai badai kehidupan dan godaan duniawi yang menggiurkan.
Sirami dengan kebaikan, tidak harus yang bersifat spektakuler; tindakan kecil dan sederhana yang dilakukan dengan tulus dan dilandasi oleh cinta kasih, jauh lebih bernilai dihadapanNya.

Komitmen, kerja keras, kesabaran, ketekunan dan kesetiaan sangat dibutuhkan untuk menghadirkan kerajaanNya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat memberikan kedamaian, sukacita, kelegaan bagi orang di sekitar kita.

Sadari bahwa Tuhan bekerja secara misterius, di luar nalar dan logika manusia. Oleh sebab itu, mari senantiasa bersandar kepadaNya, jangan mengandalkan kemampuan diri sendiri, agar kita dapat melangkah selaras dengan kehendakNya.

"Inilah Anak-Ku Yang Kukasihi... "

 

 Credit: MirificaNews

Bacaan Pertama: Yes 40:1-5.9-11

Bacaan II: Tit 2:11-14; 3:4-7

Bacaan Injil: Luk 3:15-16.21-22

YESUS DIBAPTIS

Injil Markus, Lukas dan Matius sama-sama memberitakan peristiwa Yesus dibaptis. (Dalam Injil Yohanes peristiwa itu dapat disimpulkan dari kata-kata Yohanes Pembaptis Yoh 1:32-33.)

1.      Laporan paling ringkas dan paling awal diberikan oleh Markus (Mrk 1:9-11) yang memuat tiga hal ini: (i) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan, (ii) sewaktu keluar dari air ia melihat langit terbelah dan Roh turun kepadanya seperti burung merpati, maksudnya kekuatan surga yang dahsyat tampil dalam ujud yang lembut, (ii) saat itu juga ada suara dari langit mengatakan “Engkau anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan”. Dalam peristiwa ini diperkenalkan siapa Yesus itu kepada umat manusia. Dalam diri Yesus hadir kekuatan-kekuatan surgawi. Injil Matius dan Lukas menyampaikan kembali bahan Markus ini dan menerapkannya bagi pendengar mereka masing-masing.

2.      Selain mengutarakan kembali ketiga hal yang dilaporkan Markus tadi, Matius (Mat 3:13-17)  menambahkan percakapan antara Yohanes Pembaptis dan Yesus (ayat 14-15). Yohanes mengatakan ia sendirilah yang perlu dibaptis oleh Yesus. Namun Yesus menjawab semua ini terjadi untuk menggenapkan kehendak Allah. Percakapan ini dimaksud untuk menjernihkan pertanyaan apakah Yohanes lebih besar daripada Yesus. Hal serupa sebetulnya sudah diungkapkan dalam kata-kata Yohanes sebelumnya dalam Mat 3:11-12 (Mrk 1:7-8 Luk 3:15-17 bdk. Yoh 1:29-34), yakni bahwa yang akan datang itu lebih besar dari pada Yohanes sendiri.

3.      Lukas (Luk 3:21-22) sama-sama menceritakan kembali ketiga hal yang disampaikan Markus tetapi juga menambahkan bahwa Yesus dibaptis setelah semua orang lain menerima baptisan. Kiranya Lukas hendak menanggapi persoalan di kalangan umatnya yang bertanya-tanya apakah Yesus sama seperti orang-orang yang datang minta dibaptis. Dengan mengatakan peristiwa itu terjadi setelah orang-orang lain dibaptis, Lukas menyarankan bahwa baptisan Yesus berbeda. Kedatangan Roh dan terdengarnya sabda ilahi membuat peristiwa ini khas. Selain itu Lukas juga menyebutkan bahwa Yesus sedang berdoa ketika langit terbuka.

Dalam generasi selanjutnya pertanyaan yang dihadapi Matius dan Lukas itu tidak lagi hangat dan orang mulai melihat baptisan Yesus sebagai ungkapan rasa sepenanggungan dengan orang-orang yang hati nuraninya tersentuh oleh ajakan Yohanes Pembaptis. Lebih tajam lagi, orang mulai paham bahwa kini Tuhan sendiri datang menyertai umat-Nya dengan kekuatan-kekuatannya, seperti diserukan dalam Yes 40:1-5 tadi.
Konteks kisah Yesus dibaptis ini ialah ajakan Yohanes Pembaptis kepada orang banyak untuk bertobat, untuk berganti haluan hidup, sehingga mendapat penghapusan dosa. Penghapusan dosa di sini berarti memperoleh kembali kemerdekaan batin yang bakal membuat orang bisa berbesar hati. Banyak orang yang mengikuti seruan Yohanes itu. Suatu saat datang pula Yesus dan ikut dibaptis. Dalam peristiwa itu langit terbelah, Roh Kudus turun, dan terdengar sabda ilahi mengatakan Yesus itu putra terkasih, ia mendapat perkenan dari atas. Bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan-kekuatan ilahi bersama sang putra terkasih untuk menyertai perjalanan umat yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi. Inilah yang dimaksud dengan “agar kehendak Allah digenapkan” (Mat 3:15). Yesus ini orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran ilahi sendiri sehingga menurut kata-kata Markus, “Ia melihat” langit terbuka dan Roh Allah turun.

BERDOA: MENGAKRABI YANG TAK KASAT MATA
Lukas mengatakan semua ini terjadi ketika Yesus “sedang berdoa” (Luk 3:21), artinya, ketika ia membiarkan kekuatan-kekuatan ilahi datang merasuki kehidupannya. Bila kita dapat bertanya kepada Yesus apa ia betul-betul melihat dengan mata kepala sendiri bahwa langit terbuka seperti dilaporkan Markus dan Matius, amat boleh jadi ia akan tersenyum penuh pengertian dan mengajak kita mendengarkan Lukas. Di situ “melihat” diungkapkan kembali oleh Lukas sebagai “berdoa”. Dan terbelahnya langit, turunnya Roh, dan terdengarnya suara dari langit semuanya ditaruh dalam rangka “berdoa” tadi. Bagi Lukas berdoa menjadi indra rohani yang memungkinkan orang mencerap hal-hal yang tak kasat mata yang datang dari dunia ilahi.

DIBAPTIS MENJADI PENGIKUT KRISTUS
Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ia membaptis dengan air, sedangkan yang akan datang nanti akan membaptis dengan Roh dan api. Air membersihkan. Tetapi air hanya membersihkan bagian luar, air menandai. Bukan mengubah seluruhnya. Api memurnikan luar dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan. Namun bahasa seperti ini menolong kita mengerti dan membicarakan hal-hal yang dengan cara lain sulit dipahami, apalagi dikomunikasikan.  Baptisan dengan Roh artinya baptisan yang memberi kekuatan menempuh hidup baru yang diniatkan orang dipermandikan.

Pada zaman Yesus baptisan yang dikenal ialah baptisan Yohanes Pembaptis. Baptisan yang diumumkan Yohanes ini sebetulnya bukan barang baru lagi pada waktu itu. Para petapa di Qumran sudah menjalankannya. Juga kelompok-kelompok orang saleh waktu itu menyatakan niat pembaharuan hidup mereka dengan baptisan. Nanti bila Yesus membaptis, ia tentunya juga membaptis orang seperti Yohanes seperti dapat disimpulkan dari Yoh 3:22-23. Dan sewaktu masih ada bersama Yesus, murid-muridnya pun membaptis (lihat Yoh 4:2), tentunya menurut baptisan Yohanes juga. Baru setelah peristiwa kebangkitan, baptisan di kalangan pengikut Yesus menjadi lebih khas. Ini tercermin dalam ajakan agar murid-murid membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19). 

Dalam tradisi Kisah Para Rasul, baptisan dijalankan dalam nama Yesus (Kis 8:16; 10:48; 19:5) dalam arti orang menggabungkan diri dengan pengikut-pengikut Yesus. Karena Yesus tidak lagi ada bersama mereka secara fisik, maka baptisan ini disebut baptisan dalam Rohnya, yakni Roh Kudus (Kis 1:5; 11:16) yang membawakan hidup baru. Paulus menjelaskan bahwa menjadi pengikut Kristus dengan ikut dibaptis karena tindakan ini melambangkan keikutsertaan di dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitannya. Dalam surat kepada Titus yang dibacakan hari ini, khususnya Tit 3:5 Paulus menegaskan bahwa dibaptis berarti lahir kembali, mendapat pembaharuan hidup dalam Kristus.

Perkawinan di Kana: Mereka Kehabisan Anggur



CREDIT Foto: Hidup Katolik - Credit Text: [Rm. Edison, O.Carm/RUAH]

Minggu, 17 Januari 2016 - Hari Minggu Biasa II

 Bacaan I: Yesaya 62:1-5     
  
"Seorang mempelai girang hati melihat pengantin perempuan."
   
Oleh karena Sion, aku tidak dapat berdiam diri. Dan oleh karena Yerusalem, aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatan menyala seperti suluh. Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu. Orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh Tuhan sendiri. Engkau akan menjadi mahkota keagungan di tangan Tuhan, dan serban kerajaan di tangan Allahmu. Engkau tidak akan disebut lagi “Yang-Ditinggalkan- Suami”, dan negerimu tidak akan disebut lagi “Yang-Sunyi”. Tetapi engkau akan dinamai “Yang-Berkenan-Kepada-Tuhan” dan negerimu akan disebut “Yang Bersuami”, sebab Tuhan telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. Sebab seperti seorang jejaka menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu. Dan seperti seorang mempelai girang hati melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atas engkau.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 96:1-2a.2b-3.7-10ac)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, ya seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya.
2. Kabarkanlah dari hari kehari keselamatan yang datang dari pada-Nya. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa di antara segala suku.
3. Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berikanlah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya.
4. Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai seluruh bumi! Katakanlah di antara bangsa-bangsa, “Tuhan itu Raja! Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”
Bacaan II: Korintus 12:4-11
  
"Roh yang satu dan sama memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus seperti yang dikehendaki-Nya."
  
Saudara-saudara, ada rupa-rupa karunia, tetapi hanya ada satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu, yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mukjizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-maram roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama. Ia memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali
Ayat. (2 Tes 2:14)
Allah memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (2:1-11)
  
"Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya."
  
Pada waktu itu ada pesta perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ. Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, Maria berkata kepada Yesus, “Mereka kehabisan anggur!” Kata Yesus kepada ibu-Nya, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, Ibu? Saat-Ku belumtiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang Ia katakan kepadamu, buatlah!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah penuh tempayan-tempayan itu dengan air!” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah, dan bawalah kepada pemimpin pesta!” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air yang telah menjadi anggur itu, - dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan yang mencedok air itu mengetahuinya, - ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dulu, dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik. Akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, dan merupakan yang pertama dari tanda-tanda-Nya. Dengan itu Yesus telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
    
Salah satu bentuk pesta yang sering dihadiri oleh warga masyarakat adalah pesta perkawinan. Biasanya suatu pesta perkawinan dipersiapkan dari jauh hari sebelumnya. Harapannya, perayaan tersebut bisa berlangsung sesempurna mungkin dengan makanan dan minuman yang tersedia dan cukup. Semua famili dan kenalan yang sudah diundang bisa hadir, tempat pesta yang baik dan sebagainya.

Pesta perkawinan menjadi suatu perayaan penting di dalam hidup, yang umumnya dilaksanakan satu kali bagi mereka yang dipanggil untuk bentuk panggilan hidup ini, kecuali kalau ada hal-hal lain yang tidak bertentangan dengan Gereja. Hal lain perlu diketahui bahwa pesta perkawinan adalah suatu rahmat Allah yang dilimpahkan kepada suami dan istri dalam bentuk hidup berkeluarga. Tuhan Allah memercayakan kepada mereka tanggung jawab dan kewajiban melalui panggilan suami istri, terlebih-lebih untuk kehidupan rohani dan pendidikan anak-anak yang adalah buah kasih mereka di dalam Tuhan.

Injil Yohanes hari ini membicarakan tentang pesta perkawinan di Kana. Tentu suasana pesta perkawinan kita di Indonesia sangat berbeda dengan di Kana tersebut. Adalah tradisi di daerah sana bahwa anggur adalah salah satu sarana pesta yang sangat penting. Oleh sebab itu, minuman ini selalu dicarikan yang terbaik pada saat perayaan tersebut untuk menambah kesemarakan. Dalam hal ini kita bisa mengerti bahwa Maria yang adalah juga orang yang perhatian akan kebutuhan-kebutuhan penting, meminta kepada Yesus untuk mengatasi permasalahan pelik yang sedang dihadapi oleh pemilik pesta. Maria tahu bahwa Yesus tidak akan membiarkan tuan rumah dipermalukan oleh masalah anggur yang habis. Maria tahu bahwa Yesus pasti bisa mengatasinya.

Pesta perkawinan ternyata adalah juga lambang kehidupan kekal, yaitu Kerajaan Surga yang adalah tujuan kita semua. Pertemuan kita kelak, yang adalah jiwa kita dengan Tuhan digambarkan dengan pesta perkawinan, tetapi bukan unsur-unsur tambahan pesta tersebut seperti makanan, minuman, kue tart, foto, undangan dan lain sebagainya tetapi pertemuan dua mempelai pria dan wanita. Jiwa kita adalah mempelai perempuan dan Tuhan adalah Mempelai laki-laki. Pertemuan antara jiwa dan Tuhan inilah pesta perkawinan kita yang sebenarnya, di mana kita bisa bersatu dengan-Nya yang sedang kita persiapkan selama hidup di dunia ini.

Sehubungan dengan pesta pernikahan ini, kita diperkaya oleh bacaan pertama dari Kitab Yesaya. Tuhan yang sedang mempersiapkan perkawinan kita dengan-Nya, menanti kita sampai kita kelak siap dengan pakaian pesta kawin. Jika saatnya telah tiba, maka kita ini menjadi mahkota keagungan Tuhan, serban Kerajaan Allah, mahkota keagungan tangan Tuhan. Saat itulah nama kita diubah, dalam arti kita ditransformasikan dari keadaan kita di dunia ini ke dalam keadaan Kerajaan Surga. Saat itulah kebenaran yang kita buat di dunia ini akan bersinar dan diperhitungkan Tuhan. Itulah sukacita jiwa kita dalam pesta perkawinan tersebut, karena ia bertemu dengan Mempelainya, yakni Tuhan ***

KWI Luncurkan Video Katekese 7 Sakramen Gereja di SAGKI 2015

Credit: MirificaNews


KONFERENSI Waligereja Indonesia (KWI) meluncurkan video Katekese 7 Sakramen, di hadapan sekitar 560 peserta Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI 2015) Selasa (3/11). Pelaksana produksinya dilaksanakan Komisi Komsos KWI bersama Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta. RD Kamilus Pantus (Sekretaris Eksekutif Komsos KWI) dan pastor Y.I. Iswarahadi SJ (pimpinan Puskat) saat meluncurkan video ini mengatakan, produksi video Katekese 7 Sakramen untuk menanggapi kebutuhan sarana katekese di tengah umat.

Selain berisi 7 video tentang sakramen-sakramen (Baptis, Krisma, Ekaristi, Tobat, Perkawinan, Imamat dan Pengurapan orang sakit), paket ini juga dilengkapi dengan buku panduan tentang penggunaan video dalam kegiatan katekese. “Paket ini merupakan bantuan bagi umat untuk memahami dan menghayati sakramen-sakramen Gereja secara interaktif dalam pertemuan umat di Lingkungan, sekolah maupun komunitas basis. Bahkan katekes akan dimudahkan karena dapat menyisipkan kreativitasnya sesuai dengan kondisi setempat”, kata RD Kamilus Pantus.

Yang menarik dari paket ini, selain berisi penjelasan tentang sakramen-sakramen, juga disajikan 7 film pendek yang berkorelasi dengan penjelasan ke-7 sakramen. Sementara itu untuk menjaga keakuratan isi dan penjelasannya, paket video ini  ditangani pula oleh Tim Rumpun Pewartaan KWI. Tim ini terdiri dari gabungan sekretaris Komisi di KWI, yaitu Komunikasi Sosial, Liturgi, Teologi, Kateketik, Karya Misioner dan Lembaga Biblika Indonesia, juga Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Sekretariat Jendral KWI. Selain itu ditampilkan juga para narasumber pemberi renungan, yang terdiri dari 6 pastor serta Uskup Johannes Pujasumarta.

“Umat perlu dibantu untuk memperdalam pengertian tentang Sakramen-Sakramen Gereja, sehingga penghayatannya semakin mendalam dan akhirnya menghidupkan Gereja secara internal dan eksternal”, RD Kamilus Pantus menambahkan. “Terbitan ini tidak dimaksudkan untuk menjawab semua persoalan yang muncul di sekitar sakramen Gereja, tetapi sebagai titik tolak untuk menghidupkan pertemuan katekese”.

Video Katekese 7 Sakramen Gereja ini sangat sesuai untuk pelajar SLTA, mahasiswa hingga kelompok dewasa. Dengan durasi katekese sekitar 90 menit untuk setiap sakramen, maka melalui materi audio visual ini umat dapat belajar materi yang memperdalam imannya, baik secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk mendapatkan video Katekese 7 Sakramen Gereja, peminat dapat mengubungi Komisi Komsos KWI. -Errol Jonathans-Tim Komsos

Ribuan pengungsi mendengarkan Paus di Vatikan

Credit: MirificaNews

Paus Fransiskus menyambut ribuan pengungsi dari alun-alun Santo Petrus di Vatikan bersamaan dengan hari yang didedikasikan Gereja Katolik untuk para pengungsi, Minggu 17 Januari.
 Dalam khotbah terbukanya, Paus mengatakan para pengungsi membawa ‘sebuah sejarah, sebuah budaya, sebuah nilai-nilai berharga’ dan mendesak mereka untuk tidak kehilangan harapan.
“Kehadiran Anda di alun-alun ini merupakan pertanda harapan dari Tuhan. Jangan biarkan diri Anda kehilangan harapan dan kegembiraan hidup,” jelasnya.
Sekitar 5.000 pengungsi, termasuk para pencari suaka, mengibarkan bendera asal negara mereka saat khotbah Paus.

Eropa saat ini sedang menghadapi gelombang arus pengungsi dan tahun 2015 lalu saja diperkirakan lebih dari satu juta pengungsi memasuki Eropa, sebagian besar dari Suriah, Irak, maupun negara-negara lainnya.
Krisis pendatang di Eropa ini juga menyebabkan perbedaan pendapat di kalangan negara-negara anggota Uni Eropa karena sebagian ingin membatasi dengan ketat kedatangan para pengungsi.

Pekan lalu, dalam pertemuan dengan para diplomat, Paus mendesak Eropa untuk terus menyambut para pendatang walau mengandung risiko keamanan dan tantangan lainnya.
Dan September tahun lalu, Vatikan sudah menerima satu keluarga Katolik dari Damaskus yag ditempatkan di salah satu apartemen di Vatikan.
=======
Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160117_dunia_paus_pengungsi

Kerajaan Allah: Bertumbuh dan Berkembang


CREDIT Foto: Yesus ketika berbicara perumpaan tentang benih yang tumbuh.
Sumber: Ziarah Batin
 

Jumat 29 Januari 2016 - Pekan Biasa III (H)
Bacaan I: 2Sam. 11:1-4a.5-10a.13-17
Mazmur: 51:3-4.5-6a.6bc-7.10-11; R:Ih.3a
Bacaan Injil Mrk. 4:26-34


Perumpamaan tentang benih yang tumbuh

Mrk 4:26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,
Mrk 4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.
Mrk 4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.
Mrk 4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Perumpamaan tentang biji sesawi
Mrk 4:30 Kata-Nya lagi: “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?
Mrk 4:31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.
Mrk 4:32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”
Mrk 4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,
Mrk 4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Renungan
Daud adalah seorang raja Israel yang terkenal dan kuat. Di tangannya bangsa Israel mengalahkan musuh dalam peperangan . Tangan Tuhan menaunginya . Namun, sebagai manusia Daud memiliki keterbatasan. Kekuasaannya menutup matanya sehingga dia jatuh dalam dosa, sekaligus merencanakan kematian Uria dalam perang dengan menempatkan Uria di barisan depan, demi hawa nafsunya mendapatkan Batsyeba, Isteri Uria. Benih kerajaan Allah yang sudah ditaburkan dan mulai berkembang di dalam diri Daud dan keluarganya perlahan kerdil dan hancur lantaran menuruti hawa nafsu akan kekuasaan, harta dan wanita.

Injil Markus mengisahkan perumpamaan Yesus tentang pertumbuhan benih kerajaan Allah dalam diri manusia. Tak seorang pun menyadari sepenuhnya akan pertumbuhan benih kerajaan Allah itu. Namun dari buahnyalah orang bisa mengetahui bahwa Kerajaan Allah hidup dan berkembang di dalam dan melalui diri seseorang. Jauh dari Kerajaan Allah, hidup seorang akan menjadi gersang dan hampa.

Manusia memiliki keterbatasan, namun Kasih Allah yang dahsyat menggunakan kerapuhan dan keterbatasan manusia untuk melakukan hal yang besar dan mulia bagi kebaikan banyak orang. Karena itu, kita senantiasa diundang untuk selalu dekat kepada Tuhan, dengan tekun berdoa dan membaca Kitab Suci. Dengan demikian, benih-benih Kerajaan Allah yang sudah bertumbuh di dalam diri kita yang rapuh, akan terus berkembang menghasilkan buah-buah kebaikan, kasih dan keadilan, yang dapat dirasakan oleh semakin banyak orang.

Ya Tuhan yang belas kasih, ampunilah dosa dan kelemahanku dalam mewartakan Kabar Gembira. Sokonglah aku agar mampu melihat keterbatasanku sebagai rahmat untuk berkembang dalam iman. Amin.

Tantangan Pastoral Keluarga di Dunia Modern

 
CREDIT: MirificaNews

Realitas: titik terang dan suram keluarga
Perlunya memahami situasi keluarga kristiani yang hidup di zaman modern. Gereja wajib menyampaikan Injil Yesus Kristus (evangelisasi) yang tak dapat berubah namun tetap selalu baru. Pandangan dunia tentang perkawinan sebagai sakramen dan realitas perkawinan menghadapi masalah keluarga yang rumit dan kompleks. Kesadaran kebebasan pribadi dan makin besarlah perhatian terhadap kualitas relasi, martabat wanita, tumbuhnya keturunan secara bertanggungjawab, terhadap pendidikan anak, kesadaran perlunya hubungan timbal balik di bidang rohani maupun jasmani. Salah pengertian teoritis maupun praktis tentang tidak saling tergantungnya suami-istri, salah paham mengenai hubungan kewibawaan orang tua dan anak.

Beberapa tantangan konkrit yang dialami keluarga:
  1. Makin banyaknya perceraian sipil terhadap pasangan perkawinan Gereja,
  2. Hidup bersama tanpa peneguhan perkawinan Gereja (kanonik),
  3. Malapetaka praktik aborsi anak dan makin kerapnya sterilisasi bagi para ibu dan tumbuhnya mentalitas keluarga yang jelas-jelas menggunakan alat KB yang bersifat kontraseptif-abortif,
  4. Faktor ekonomi menyebabkan keluarga terpisah satu sama lain,
  5. Ketidaktahuan umat mengenai ajaran Gereja tentang perkawinan,
  6. Persoalan konkrit dan praktis di Paroki: keluarga yang retak tidak tahu solusi, pisah ranjang dan single parents.
Rencana Allah bagi keluarga kristiani:
Rencana Allah bagi keluarga dapat diketahui melalui: mengetahui kehendak Allah dari wahyu positif dan wahyu natural. Wahyu positif berarti apa yang disampaikan oleh Allah melalui KS. Wahyu natural berarti apa yang terdapat di dalam alam ciptaan dan dapat diketahui sebagai ketetapan Allah berkat akal budi manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan citra Allah (Kej. 1:27). Manusia diciptakan oleh Allah menurut model kasih, dan dengan motivasi kasih. Artinya manusia diciptakan oleh Allah dalam membangun keluarga dengan model kasih. Motivasi Allah menciptakan manusia lelaki dan perempuan dengan kasih. Panggilan manusia-keluarga adalah kasih, (Yoh. 15:13; Mat. 25:31-46).

Panggilan keluarga kristiani
Panggilan untuk mengasihi diwujudkan secara konkret keberadaan manusia, Allah menciptakan manusia menurut citra-keserupaan-Nya sendiri. Secara umum madah kasih, dapat kita temukan dalam 1Kor.13:4-7, juga dalam 1 Yoh 4:8 “Allah adalah kasih”. Madah kasih ini sebagai alat untuk mengevaluasi keluarga kristiani apakah kita sudah mewujudkannya dalam hidup keluarga? Wujud konkret panggilan kasih dalam keluarga (bdk. FC, 11). Pewahyuan kristiani mengenal dua bentuk khusus untuk mewujudkan panggilan: perkawinan atau hidup religius.
Dengan caranya masing-masing keduanya adalah perwujudan dari kebenaran manusia yang paling mendalam sebagai pribadi yang diciptakan secitra dengan Allah. Oleh karenanya seksualitas bagi laki-laki maupun perempuan merupakan upaya untuk saling menyerahkan diri melalui tindakan yang khas dan eksklusif bagi suami-istri tidak melulu bersifat biologis melainkan menyangkut pribadi manusia yang paling inti (bdk. FC, 11). Satu-satunya lingkungan yang memungkinkan penyerahan diri dalam arti yang sepenuhnya ialah pernikahan yakni perjanjian cinta kasih antara suami-istri yang dipilih secara bebas dan sadar.

Kehendak Allah bagi keluarga
Perkawinan sebagai sakramen berarti perkawinan seturut kehendak Allah. Sakramen berarti Allah bekerja untuk menyelamatkan manusia, Perkawinan itu sakramen berarti perkawinan itu adalah tanda dimana Allah berkarya untuk mewujudkan keselamatan. Sakramen adalah rencana Allah bagi manusia (Ef. 1:9). Persekutuan cinta kasih antara Allah dan umat-Nya, suatu unsur fundamental dalam Pewahyuan dan pengalaman iman bangsa Israel mendapat ungkapannya yang penuh makna dalam perjanjian perkawinan yang diadakan antara laki-laki dan perempuan (bdk. FC, 12).
Persekutuan antara Allah dan umat-nya mencapai pemenuhannya dalam Yesus Kristus Sang mempelai. Pewahyuan itu mencapai kepenuhannya yang definitif dalam kurnia kasih yang dianugerahkan oleh Sabda Allah kepada umat manusia dengan mengenakan kodrat manusiawi dan dalam korban diri-Nya. Dengan pembaptisan manusia secara definitif berada dalam perjanjian baru dan kekal, perjanjian pernikahan Kristus dengan Gereja. Berdasarkan integrasi yang tak terhapuskan itulah persekutuan mesra hidup suami-istri ditetapkan oleh Kristus menjadi sakramen (bdk. FC, 13).

Keluarga sebagai persekutuan pribadi-pribadi
Hidup berkeluarga bukanlah suatu keharusan sosial, bahkan jodoh dianggap sebagai rahasia Allah. Setiap orang tidak tahu siapa jodohnya, dan juga tidak tahu apakah perkawinannya langgeng harmonis, sejahtera, lembaga perkawinan bukanlah lembaga manusiawi melainkan juga ilahi. Perkawinan dan keluarga kristiani membangun Gereja sebab dalam keluarga manusia tidak hanya menerima kehidupan melainkan melalui kelahiran baptis dan pembinaan iman anak diajak memasuki keluarga Allah: Gereja (bdk. FC, 15). Markus 10:6-8, keluarga kristiani adalah lembaga manusiawi yang bercorak sakral.

Peran keluarga di dunia
Dalam rancangan Allah, keluarga bukan hanya menemukan jati dirinya melainkan juga perutusannya mewartakan kabar gembira (evangelisasi): yakni apa yang dapat dan harus dijalankannya di dunia. Maka dari itu keluarga harus kembali kepada awal mulanya karya ciptaan Allah. Keluarga mengemban misi dan evangelisasi untuk makin menepati jati dirinya yakni suatu persekutuan kehidupan dan cinta kasih melalui usaha seperti Allah sang pencipta kehendaki. Keluarga kristiani dipanggil untuk ambil bagian secara aktif dan bertanggungjawab dalam misi Gereja dengan cara yang asli dan khas dengan menjadi sebuah “kesatuan mesra hidup dan cinta” demi pelayanan Gereja dan Masyarakat.
Bertolak dari cinta kasih dan dengan selalu menunjuk kepadanya FC, 17 menekankan 4 tugas umum bagi keluarga:
  1. Membentuk persekutuan pribadi-pribadi,
  2. Mengabdi kepada kehidupan,
  3. Ikut serta dalam pengembangan masyarakat,
  4. Berperanserta dalam kehidupan dan misi Gereja.
Cinta kasih sebagai prinsip dan kekuatan persekutuan. Keluarga yang didasarkan pada cintakasih serta dihidupkan olehnya merupaan persekutuan pribadi-pribadi: suami-isteri, orang tua dan anak-anak, saudara-saudara. Tugasnya yang pertama yakni: dengan setia menghayati kenyataan persekutuan disertai usaha terus menerus untuk mengembangkan rukun hidup yang otentik. Tugas terdalam keluarga adalah cinta kasih, keluarga tidak dapat hidup berkembang atau menyempurnakan diri sebagai persekutuan pribadi-pribadi tanpa cinta kasih (bdk. RH,10).

Persekutuan yang pertama adalah yang dijalin dan berkembang antara suami dan istri berdasarkan perjanjian perkawinan. Mereka dipanggil untuk bertumbuh dalam persekutuan mereka melalui kesetiaan dari hari ke hari dalam janji perkawinan. Persekutuan itu berakar dalam sifat melengkapi secara alamiah yang terdapat antara laki-laki dan perempuan dan makin dikuatkan oleh kerelaan pribadi suami-istri untuk bersama-sama melaksanakan seluruh rencana hidup mereka. Persekutuan itu secara radikal ditantang oleh poligami. Poligami mengingkari kehendak Allah yang diwahyukan sejak mula.

Persekutuan tidak dapat dibatalkan
Persekutuan yang pertama adalah yang dijalin dan berkembang antara suami dan istri berdasarkan perjanjian perkawinan. Mereka dipanggil untuk bertumbuh dalam persekutuan mereka melalui kesetiaan dari hari ke hari dalam janji perkawinan. Persekutuan itu berakar dalam sifat melengkapi secara alamiah yang terdapat antara laki-laki dan perempuan dan makin dikuatkan oleh kerelaan pribadi suami-istri untuk bersama-sama melaksanakan seluruh rencana hidup mereka. Persekutuan itu secara radikal ditantang oleh poligami dan perpisahan suami-istri. Poligami mengingkari kehendak Allah yang diwahyukan sejak mula. Perpisahan dan pemutusan ikatan suami-istri yang sah merupakan duka yang mendalam bagi Gereja. Semoga pemikiran di atas menjadi landasan pastoral keluarga di Keuskupan-Keuskupan dalam menanggapi tantangan pastoral dalam konteks evangelisasi (bdk. Hasil Sinode Luar Biasa Roma, 5-19 Oktober 2014).

(Sebuah pencerahan dan pemikiran diambil dari Anjuran Apostolik PP. Joanes Paulus II, Familiaris Consortio guna menjawabi tantangan pastoral keluarga)


Berbagi : Belajar dari St. Fransiskus Assisi


Credit Foto: Indonesia Ucanews
 Credit Teks: Flaminor - 0leh:  Ryan Dagur
(tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidup Edisi 12/2011)

“Mari Berbagi – Menuju Perwujudan Diri Sejati”, demikian tema Surat Gembala Prapaskah 2011 dari Uskup KAJ, Mgr. Ignasius Suharyo. Sejauh yang saya pahami ada dua alasan dibalik perumusan tema tersebut. Pertama, Gereja menyadari tugasnya dalam konteks Indonesia, yakni “ikut merasakan kegembiraan dan harapan serta keprihatinan dan kecemasan” masyarakat (no.2). Artinya, tema itu lahir dari kepedulian akan situasi sosial-ekonomi Indonesia.

Kedua, senada dengan cita-cita yang digariskan dalam Arah Dasar Pastoral KAJ, Gereja hendak memberi tempat pada upaya membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih (no.2). Tema ”Mari Berbagi”, tampaknya bisa mengakomodasi dua alasan tersebut.
Mencermati kondisi sosial ekonomi masyarakat atau bangsa kita, ajakan untuk berbagi terasa relevan. Namun ajakan itu juga merupakan sebuah tantangan yang menghadapkan kita pada pertanyaan ”Bersedia kita berbagi?
Berbagi selalu mengandaikan kerelaan untuk memberi kepada yang lain apa yang menjadi bagian kita. Berbagi selalu mengandaikan kesediaan untuk melepaskan kelekatan dengan apa yang kita miliki. Berbagi selalu mengandaikan kesadaran bahwa aku mesti bisa berbuat sesuatu bagi yang lain.


Belajar dari St. Fransiskus Asisi
Saat menyelami makna ajakan untuk berbagi”, saya teringat dengan salah satu peristiwa penting dalam hidup St. Fransiskus Asisi, yakni pertengkaran dengan ayahnya – seorang pedagang kaya di Asisi, Italia – Pietro Benardone. Pada masa hidup Fransiskus, tatanan sosial ekonomi Asisi dipengaruhi sistem feodalisme yang mengakibatkan adanya jurang antara kaum kaya dan miskin.

Suatu ketika ia disuruh menjual kain – barang dagangan ayahnya. Tapi, tiba-tiba Fransiskus memutuskan tidak menjual kain-kain itu. Barang dagangan ayahnya itu dibagikannya secara gratis kepada orang-orang miskin. Tindakannya tentu saja terasa sangat aneh di mata ayahnya. Keinginan sang ayah untuk mendapat untung pupus karena tindakan anaknya sendiri. Anaknya yang semula dikenal matre, tiba-tiba berubah. Ayahnya marah dan mengusir Fransiskus.

Namun saat itu, Fransiskus melihat bahwa sikapnya tepat. Bahkan ia bangga dengan tindakannya. Dalam dirinya mMuncul sikap bela rasa dan kepedulian ketika berjumpa dengan orang miskin dan penderita kusta di jalan-jalan di Asisi. Pengalaman perubahan tersebut digambarkannya dengan ungkapan: ”apa yang dahulu terasa memuakkan bagiku sekarang berubah menjadi manis”. Ia mengakui, sekarang ia malahan merindukan kesempatan untuk menjumpai orang miskin dan menderita.

Fransiskus berubah secara radikal. Dari seorang yang egois menjadi murah hati, solider dan berbela rasa dengan sesama. Dalam konteks ajakan untuk berbagi, bagi saya, pengalaman St. Fransiskus memperlihatkan beberapa poin penting yang bisa dipetik.

Pertama, dimensi eksperiensial mendapat tempat dalam peristiwa peralihan cara pandang dan perilakunya. Perjumpaan dengan realitas membawa ia pada kesadaran untuk berubah. Saat bertatapan dengan orang-orang kecil, mata dan hatinya terbuka untuk melihat apa yang terjadi di luar lingkungan keluarganya. Bahwa ternyata masih ada orang yang hidupnya susah, tidak seperti keluarganya yang kaya.

Kedua, tindakan St Fransiskus menjadi gugatan terhadap kesenjangan sosial di lingkungan kehidupannya. Lewat tindakan berbagi yang digugat adalah ketidakpedulian keluarganya terhadap kondisi sesama. Dengan berbagi Fransiskus seakan memberi pesan bagi ayahnya untuk menerobos benteng ketertutupan dan membuka mata terhadap realitas sosial di sekitar.

Ketiga, lebih jauh, St Fransiskus menyadari panggilannya untuk menjadi sesama bagi yang kecil dan menderita. Menjadi sesama bagi yang lain, selalu mengandaikan adanya pengakuan bahwa yang lain juga memiliki hak untuk menikmati kehidupan yang layak, seperti yang dialaminya. Dalam konteks inilah ajakan untuk berbagi kita tempatkan sebagai aktualisasi kesadaran untuk menjadi saudara bagi semua.

Keempat, lewat ajakan untuk berbagi, kita juga diingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena fakta adanya kesenjangan adalah konsekuensi lanjutan dari persoalan yang lebih mendasar, yakni ketidakadilan. Dalam masyarakat ada sebagian kecil orang yang memonopoli akses terhadap sumber-sumber kehidupan, sedangkan mayoritas masyarakat mengalami kesulitan. Terdapat ketimpangan. Kondisi inilah yang memungkinkan tetap melebarnya kesenjangan.


Aktualisasi Diri
Bagi kita, ajakan berbagi adalah peringatan sekaligus imperasi untuk membuka diri dan berpatisipasi dalam membangun kehidupan yang lebih manusiwai dimana semangat solidaritas dipupuk. Surat Gembala Prapaskah 2011 ini mestinya mengetuk nurani kita untuk menatap dunia sekitar sambil secara kreatif mencari cara untuk mengaktualisasikan ajakan berbagi. Lewat berbagi, kita menjadi berkat dan bertumbuh menjadi pribadi yang sejati. Dengan berbagi kita menyadari kewajiban untuk menjadi saudara bagi yang lain. Itulah salah satu jalan menuju perwujudan diri yang sejati.

Senin, 25 Januari 2016

Roh Allah Ada Pada-Ku

Credit: Jendela Alkitab - Mirifica News

 Minggu, 24 Januari 2016 Hari Minggu Biasa III (H)


Teks Perikp Kitab Suci:

Bacaan I: Neh.8:3-5a.6-7.9-11;

Bacaan II: 1Kor.12:12-30;

Injil: Luk.1:1-4; 4:14-21


SIAPA tak was-was jika menghadapi masa depan yang tak jelas? Awal tahun yang baru tak selamanya membawa pengalaman-pengalaman baru yang sesuai dengan harapan. Situasi ekonomi dan keadaan sosial masyarakat yang tak menentu menyebabkan hidup kita semakin memprihatinkan. Oleh karena itu, sangat wajar jika muncul rasa was-was, ragu-ragu, dan merasa tak jelas.

Bagi mereka yang merasakan pengalaman semacam itu, Firman Allah hari ini layak untuk dibaca berulang-ulang dan direnungkan. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk.4:18-19).

Dalam keadaan was-was, ragu-ragu, mengapa kita tak berpaling pada Allah? Bukankah dengan baptisan dan penguatan yang telah kita terima, Roh Allah juga ada dalam diri kita masing-masing. Bukankah Allah juga telah mengurapi kita dengan sakramen-sakramen kudus-Nya? Bukankah dengan pengurapan itu kita juga dikuatkan dan dimampukan? Semakin kita meragukan atau bahkan menyangkal keberadaan terberkati itu, kita akan semakin merasa lemah. Sebaliknya, semakin kita mampu pasrah pada kekuatan urapan yang dianugerahkan Allah itu, semakin kekuatan Allah akan kita rasakan. Tentu saja, pada kenyataannya, yang terjadi tak semudah yang dikatakan. Diperlukan upaya yang terus-menerus dalam melatih sikap pasrah kepada kehendak Allah. Sikap pasrah tentu tak sekali jadi. Seperti halnya bayi yang belajar berjalan kerap jatuh, demikian pula dalam melatih sikap pasrah, kita kerap gagal dan jatuh. Jika tak mau berdiri dan mencoba berjalan kembali, kita tak akan pernah mampu.

Sekali lagi, bukankah sikap ragu-ragu dan tak percaya justru akan memperlemah diri kita? Apakah kita akan semakin dikuatkan jika kita selalu mengeluh, tak percaya atau ragu-ragu? Inilah saatnya kita belajar pasrah. Hanya dengan sikap seperti itu, kita sedikit demi sedikit akan semakin kuat.***

Pendengar dan Pelaksana Kehendak Allah

   

Selasa 26 Januari 2016 - Pekan Biasa III (H) 

Text Perikop Kitab Suci:  

Bac. I:  2 Sam.6:12b-15.17-19

Mazmur 27:7.8.9.10;R:8a

Injil: Mrk. 3:31-35


Mrk 3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.
Mrk 3:32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”
Mrk 3:33 Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”
Mrk 3:34  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
Mrk 3:35 Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Renungan

Manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan-lah yang menentukan. Sumber segala berkat dalam kehidupan berasal dari Allah. Ingat terhadap Allah dan hukum-hukum-Nya mendatangkan sukacita dab berkat. Lupa akan Allah dan hukum-hukum-Nya mejauhkan kita dari segala berkat dan kegembiraan. Orang Israel, khususnya sisa kecil yang setia, selalu ingat akan Allah dan hukum-hukum-Nya. Mereka diperkenankan memasuki tanah terjanji. Siapa sesungguhnya bangsa pilihan? Bangsa yang setia dan melaksanakan Perintah Allah menjadi bagian dan bangsa pilihan Allah.

Yesus mengatakan kepada para pendengar-Nya bahwa Ia hadir ke dunia untuk segala bangsa. Ia datang bukan hanya untuk keluarga-Nya, juga bukan hanya untuk orang-orang Israel, tetapi untuk segala bangsa dan segala zaman. Kehadiran dan pewartaan-Nya ditujukkan untuk semua orang yang menghendaki damai sejahtera dan keselamatan. “ Siapa saja yang melakukakn kehendak Allah, “ tandas Yesus, “dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudari-Ku perempuan, dialah Ibu-Ku”.

Apakah kita sudah berusaha menjadi saudari perempuan, saudara laki-laki, dan menjadi Ibu Yesus? Kebahagiaan kita tak akan abadi, dan sia-sia semua apa yang kita miliki saat ini, jika Tuhan tidak hadir dan tinggal di dalam diri kita, dalam keluarga dan komunitas kita.

Ya Allah, bukalah hati dan pikiranku agar siap sedia menjadi pelaku firman dalam hidup dan karyaku setiap hari. Amin.

Sabtu, 23 Januari 2016

Kapitel Regio Pertama OFS Nias

Kapitel Regio Pertama OFS Nias yang berlangsung 13 - 15 Juli 2012 di Aula Paroki Sta. Maria Gunungsitoli yang diawali dengan perayaan Ekaristi Kudus, diharapkan dapat memberi kekuatan kepada para saudara yang mengikutinya selama tiga hari, serta Roh kudus membimbing seluruh peserta  dalam memilih dan menentukan pengurus regio yang baru periode 2012-2015.

Para saudara yang terdiri dari tiga persaudaraan lokal (Persaudaraan Sta. Maria Gunungsitoli, Idanogawo dan Telukdalam) seluruhnya  berjumlah tiga puluh tiga orang, dan telah duduk bersama dipenuhi rasa kegembiraan untuk mengikuti pertemuan persaudaraan tersebut. Hadir juga  P. Dominikus Sibagariang, OFMCap  sebagai pastor pendamping rohani Ordo Fransiskan Sekular Regio Nias. Dalam kotbahnya, P. Dominikus Sibagariang, OFMCap  mengatakan betapa indahnya persaudaraan ini yang disatukan bukan oleh hubungan darah tetapi disatukan oleh semangat Bapak St. Fransiskus dari Assisi.

Kehadiran Sekretaris Dewan Nasional OFS Indonesia, Christine Chang, semakin menambah rasa bahagia semua saudara yang tentunya merindukan kedatangan pengurus Dewan Nasional. Konferensi  I pun dimulai dengan bahan tentang “Doa dalam hidup Fransiskan” yang disampaikan oleh Pater Dominikus Sibagariang, OFM Cap.
Picture

Pelaksanaan pemilihan Dewan Regio periode 2012-2015 dipimpin langsung oleh Dewan Nasional Christina Chang.  Dari semua yang hadir, yang berhak memilih dua puluh dua orang.  Pada saat pemilihan ini, turut hadir pastor Pendamping Rohani OFS Nasional Indonesia, P. Donatus Marbun, OFMCap.






Hasil pemilihan adalah:

Ketua Dewan Regio              :  Elias Laia, OFS
Wakil Ketua Dewan Regio    : Antonius S. Lase, OFS
Sekretaris Regio                    : Selestinus Laia, OFS
Bendahara                            : Eka Mariati Waruwu, OFS
Formatur                               : Sirus Sofumboro Ndruru, OFS

Pada Hari Minggu 15 Juli 2012, dalam misa kedua bersama umat Paroki Sta. Maria, dirayakan misa yang dipimpin oleh P. Donatus Marbun, OFMCap sebagai celebran utama dengan P. Dominikus Sibagariang, OFMCap. Setelah homili, dewan terpilih diundang ke depan altar, lalu dilantik oleh dewan nasional,  dan dilanjutkan dengan pemberkatan oleh pastor.  Selesai pemberkatan, semua saudara melambungkan pujian dengan lagu GITA SANG SURYA. Selesai Perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan acara penutupan di aula. Kita ucapkan Proficiat kepada pada saudara Dewan Regio periode 2012-2015 yang melayani Regio Nias

Kapitel Regio Kedua OFS Nias



Ordo Fransiskan Sekular (OFS) Regio St. Konrad Nias telah mengadakan Kapitel Pemilihan di aula paroki Hati Kudus Yesus Bintang Laut – Telukdalam pada tgl 26-27 Juni 2015 lalu. Kapitel Pemilihan yang mengakhiri periode pelayanan selama 3 tahun dan memilih kembali para pelayan pada periode berikutnya ini diawali dengan Perayan Ekaristi yang dihadiri oleh para saudara-saudari OFS se-regio bersama Pembimbing Rohani Regio dan Lokal. Karena kedatangan Dewan Nasional OFS sedikit terlambat karena ‘delay’ pesawat, maka Perayaan Ekaristi Pembukaan Kapitel dipimpin oleh Pendamping Rohani Regio (P. Gregorius Fau, OFMCap).  Turut hadir dalam kapitel tersebut adalah utusan dari Ordo Kapusin Kustodi General Kepulauan Nias (P. Alexius Telaumbanua OFMCap).
Kapitel pemilihan dipimpin oleh Dewan Nasional OFS (Sdri. Sulastri Pasaribu OFS) bersama Pendamping Rohani Nasional (P. Mardan Ginting OFMConv). Dari hasil pemlihan, maka terpilih Minister Regio OFS St. Konrad Nias untuk masa pelayanan 2015-2018, yakni: Sdr. Sofumboro Ndruru OFS (A. Fajar). Dengan demikian, masa pelayanan sebelumnya yang dipercayakan kepada Sdr. Elias Laia OFS (A. Haris) berakhir.

 IMG_0608
Kita ucapkan “Proficiat” kepada Minister Regio OFS yang baru bersama Dewan Regio terpilih dan terima kasih kepada para saudara dan saudari yang telah melayani persaudaraan OFS Regio Nias pada periode sebelumnya.
Sebelum kapitel berakhir, persaudaran OFS Regio Nias menyampaikan kenangan kepada Dewan Nasional dan Pembimbing Rohani Nasional berupa miniatur Rumah Adat Nias Selatan. KIta doakan agar semakin banyak dari antara umat, teristimewa paroki-paroki yang dilayani oleh para Saudara Kapusin, tergerak hatinya untuk bergabung dalam persaudaraan Ordo Fransiskan Sekular (OFS). Tuhan memberkati…… Pace e Bene!

 
Copyright © 2016 OFS Regio St. Konrad Nias
Design by: FBTemplates | BTT