Credit Foto: Indonesia Ucanews
Credit Teks: Flaminor - 0leh: Ryan Dagur
(tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidup Edisi 12/2011)
(tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidup Edisi 12/2011)
“Mari Berbagi – Menuju Perwujudan Diri
Sejati”, demikian tema Surat Gembala Prapaskah 2011 dari Uskup KAJ, Mgr.
Ignasius Suharyo. Sejauh yang saya pahami ada dua alasan dibalik
perumusan tema tersebut. Pertama, Gereja menyadari tugasnya dalam
konteks Indonesia, yakni “ikut merasakan kegembiraan dan harapan serta
keprihatinan dan kecemasan” masyarakat (no.2). Artinya, tema itu lahir
dari kepedulian akan situasi sosial-ekonomi Indonesia.
Kedua, senada dengan cita-cita yang
digariskan dalam Arah Dasar Pastoral KAJ, Gereja hendak memberi tempat
pada upaya membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan
kasih (no.2). Tema ”Mari Berbagi”, tampaknya bisa mengakomodasi dua
alasan tersebut.
Mencermati kondisi sosial ekonomi
masyarakat atau bangsa kita, ajakan untuk berbagi terasa relevan. Namun
ajakan itu juga merupakan sebuah tantangan yang menghadapkan kita pada
pertanyaan ”Bersedia kita berbagi?
Berbagi selalu mengandaikan kerelaan untuk memberi kepada yang lain apa
yang menjadi bagian kita. Berbagi selalu mengandaikan kesediaan untuk
melepaskan kelekatan dengan apa yang kita miliki. Berbagi selalu
mengandaikan kesadaran bahwa aku mesti bisa berbuat sesuatu bagi yang
lain.
Belajar dari St. Fransiskus Asisi
Saat menyelami makna ajakan untuk berbagi”, saya teringat dengan salah
satu peristiwa penting dalam hidup St. Fransiskus Asisi, yakni
pertengkaran dengan ayahnya – seorang pedagang kaya di Asisi, Italia –
Pietro Benardone. Pada masa hidup Fransiskus, tatanan sosial ekonomi
Asisi dipengaruhi sistem feodalisme yang mengakibatkan adanya jurang
antara kaum kaya dan miskin.
Suatu ketika ia disuruh menjual kain –
barang dagangan ayahnya. Tapi, tiba-tiba Fransiskus memutuskan tidak
menjual kain-kain itu. Barang dagangan ayahnya itu dibagikannya secara
gratis kepada orang-orang miskin. Tindakannya tentu saja terasa sangat
aneh di mata ayahnya. Keinginan sang ayah untuk mendapat untung pupus
karena tindakan anaknya sendiri. Anaknya yang semula dikenal matre,
tiba-tiba berubah. Ayahnya marah dan mengusir Fransiskus.
Namun saat itu, Fransiskus melihat bahwa
sikapnya tepat. Bahkan ia bangga dengan tindakannya. Dalam dirinya
mMuncul sikap bela rasa dan kepedulian ketika berjumpa dengan orang
miskin dan penderita kusta di jalan-jalan di Asisi. Pengalaman perubahan
tersebut digambarkannya dengan ungkapan: ”apa yang dahulu terasa
memuakkan bagiku sekarang berubah menjadi manis”. Ia mengakui, sekarang
ia malahan merindukan kesempatan untuk menjumpai orang miskin dan
menderita.
Fransiskus berubah secara radikal. Dari
seorang yang egois menjadi murah hati, solider dan berbela rasa dengan
sesama. Dalam konteks ajakan untuk berbagi, bagi saya, pengalaman St.
Fransiskus memperlihatkan beberapa poin penting yang bisa dipetik.
Pertama, dimensi eksperiensial mendapat
tempat dalam peristiwa peralihan cara pandang dan perilakunya.
Perjumpaan dengan realitas membawa ia pada kesadaran untuk berubah. Saat
bertatapan dengan orang-orang kecil, mata dan hatinya terbuka untuk
melihat apa yang terjadi di luar lingkungan keluarganya. Bahwa ternyata
masih ada orang yang hidupnya susah, tidak seperti keluarganya yang
kaya.
Kedua, tindakan St Fransiskus menjadi
gugatan terhadap kesenjangan sosial di lingkungan kehidupannya. Lewat
tindakan berbagi yang digugat adalah ketidakpedulian keluarganya
terhadap kondisi sesama. Dengan berbagi Fransiskus seakan memberi pesan
bagi ayahnya untuk menerobos benteng ketertutupan dan membuka mata
terhadap realitas sosial di sekitar.
Ketiga, lebih jauh, St Fransiskus
menyadari panggilannya untuk menjadi sesama bagi yang kecil dan
menderita. Menjadi sesama bagi yang lain, selalu mengandaikan adanya
pengakuan bahwa yang lain juga memiliki hak untuk menikmati kehidupan
yang layak, seperti yang dialaminya. Dalam konteks inilah ajakan untuk
berbagi kita tempatkan sebagai aktualisasi kesadaran untuk menjadi
saudara bagi semua.
Keempat, lewat ajakan untuk berbagi,
kita juga diingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan
kita. Mengapa? Karena fakta adanya kesenjangan adalah konsekuensi
lanjutan dari persoalan yang lebih mendasar, yakni ketidakadilan. Dalam
masyarakat ada sebagian kecil orang yang memonopoli akses terhadap
sumber-sumber kehidupan, sedangkan mayoritas masyarakat mengalami
kesulitan. Terdapat ketimpangan. Kondisi inilah yang memungkinkan tetap
melebarnya kesenjangan.
Aktualisasi Diri
Bagi kita, ajakan berbagi adalah peringatan sekaligus imperasi untuk
membuka diri dan berpatisipasi dalam membangun kehidupan yang lebih
manusiwai dimana semangat solidaritas dipupuk. Surat Gembala Prapaskah
2011 ini mestinya mengetuk nurani kita untuk menatap dunia sekitar
sambil secara kreatif mencari cara untuk mengaktualisasikan ajakan
berbagi. Lewat berbagi, kita menjadi berkat dan bertumbuh menjadi
pribadi yang sejati. Dengan berbagi kita menyadari kewajiban untuk
menjadi saudara bagi yang lain. Itulah salah satu jalan menuju
perwujudan diri yang sejati.

Posting Komentar