Credit: MirificaNews
31 Januari 2016
Minggu Biasa IV (H) -Tahun C
Bacaan: Yer 1:4-5; 17-19; 1 Kor 12:31-13,13; Luk 4:21-30
ANDAIKATA SAJA….
Seandainya orang-orang Nazaret itu menyadari apa yang sedang terjadi,
mereka akan merasa sebagai orang-orang yang paling berbahagia di muka
bumi ini. Namun mereka tak puas, jadi berang dan bermaksud memaksa Yesus
membuat mukjizat. Ironis. Yang mereka peroleh sebetulnya jauh lebih
besar dan lebih khusus dari segala perbuatan yang mengherankan yang
terjadi di tempat lain. Tapi mereka tak menangkap. Kepada mereka
ditegaskan bahwa nubuat Yesaya (Luk 4:18-19=Yes 61:1-2) menjadi
kenyataan. Di tengah-tengah mereka – “hari ini” – hadir Mesias yang
dikabarkan kedatangannya oleh nabi-nabi dan dinanti-nantikan orang
selama berabad-abad. Ia datang membawakan keleluasaan batin dan
kemerdekaan berpikir. Namun mereka menginginkan hal-hal yang lebih
spektakuler. Mereka menolak kehadiran Yang Ilahi demi keinginan melihat
mukjizat.
Kita tidak tahu persis bagaimana Yesus bisa meloloskan diri dari
keberingasan massa itu. Tapi hal ini bukan hal pokok yang hendak
disampaikan Lukas. Memang ada yang mengatakan bahwa perbawa Yesus
sedemikian besar sehingga massa dapat diredamnya dan ia pergi dengan tak
kurang suatu apa pun. Tetapi kalau betul begitu mengapa tadi mereka
berani menyeretnya ke pinggir tebing? Orang-orang di Nazaret itu bukan
Iblis yang bisa dibentak pergi dengan mengutip Ul 6:16 seperti terjadi
dalam Luk 4:12. Amat boleh jadi orang-orang itu akhirnya tidak jadi
menghempaskan Yesus ke jurang karena melihat Yesus tak mau bermukjizat
seperti mereka kehendaki. Boleh jadi ada salah satu dari mereka yang
mencegah. Imajinasi kita bisa bermacam-macam dan memang Lukas membiarkan
orang membaca Injilnya secara kreatif. Lukas hanya memberitahukan bahwa
Yesus “lewat dari tengah-tengah mereka dan pergi”. Yang penting dalam
seluruh episode ini bukan bagaimana Yesus meloloskan diri, melainkan apa
yang terjadi dengan orang-orang Nazaret itu. Tingkah mereka membuat
kehadiran Yesus lepas dari tengah-tengah mereka. Mereka kehilangan dia.
Dengan kisah ini Lukas mengajak orang mewaspadai sikap beragama dan
perilakunya. Demam mukjizat bisa berakhir dengan hilangnya sumber
mukjizat sendiri seperti yang terjadi di Nazaret. Dan memang setelah
peristiwa ini, dusun Nazaret yang berperan besar dalam bab-bab
sebelumnya tidak terucap lagi dan dilupakan orang. Perannya telah
selesai. Nama dusun ini selanjutnya hanya diingat dalam sebutan “Yesus
dari Nazaret”, yang kehadirannya justru tidak diterima dengan baik oleh
orang-orang Nazaret sendiri.
PENYAKIT KRONIK HIDUP BERAGAMA DAN OBAT SANTO PAULUS
Agama mengajarkan agar orang mengimani Yang Ilahi, pasrah kepada
kekuatan-kekuatanNya. Namun sikap pasrah yang asal saja sering malah
menggiring orang ke tujuan lain. Beberapa kenyataan dalam penghayatan
agama menunjukkan hal ini. Iman yang unsur pokoknya adalah keteguhan
dapat menjadi sikap fanatik dan intoleran. Tata upacara atau ritus yang
tujuannya membantu orang merasakan batas-batas antara yang duniawi
dengan Yang Ilahi bisa menjadi serangkai tindakan magi yang justru
mengaburkan batas-batas tadi. Akibatnya barang-barang yang berhubungan
dengan tata upacara beralih peran menjadi jimat dan guna-guna. Doa
beralih fungsi menjadi jampi-jampi mendatangkan roh. Hukum agama yang
menata hidup beragama bisa menjadi aturan-aturan yang mencekik
kerohanian dengan rasa takut yang bisa dimanipulasi demi tujuan-tujuan
tertentu. Spiritualitas yang muncul dari pengalaman akan kehadiran yang
ilahi bisa menjadi praktek ulah batin yang kurang sehat bila tak terolah
terus.
Penyakit kronik dalam hidup beragama ini juga dikenali oleh Paulus.
Dalam 1 Kor 12:31-13,13 ia mengatakan bahwa macam-macam karunia khusus
bila tak disertai “kasih” (agape) tak ada maknanya. Kemampuan berbicara
bahasa malaikat dan manusia, bernubuat, menguasai ilmu gaib, iman
sempurna, sikap mau berkorban bisa jadi satu saat tak lagi dibutuhkan,
akan tetapi, menurut Paulus, kasih tidak ada habisnya. Ia menggambarkan
pelbagai kenyataan yang menunjukkan adanya kasih: sikap sabar, baik
hati, tak cemburu, tak besar kepala dan sombong, jauh dari sikap tak
sopan dan egoist, bukan pemarah, bukan pendendam, memihak kebenaran dan
menjauhi ketakadilan, telaten, bisa mempercayai, penuh harap, tahan uji.
Daftar ini tentu dapat diperpanjang. Namun semuanya sama-sama
mencerminkan sikap apa adanya, tidak mengada-ada. Dalam bahasa orang
sekarang: integritas, bersikap apa adanya. Itulah penerapan kasih bagi
zaman ini. Agama dapat membawakan keleluasaan batin bila dihayati secara
apa adanya. Bila tidak, akan gampang kena penyakit kronik demam
mukjizat yang mengaburkan kehadiran Yang Ilahi di tengah-tengah manusia.
Paulus mengajak orang-orang di Korintus dan kita semua agar waspada dan
jangan sampai mabuk roh.

Posting Komentar